5 SEJARAH YANG HARUS DIKETAHUI OLEH PENGUNJUNG PULAU PENYENGAT
selamat pagi, semoga dalam keadaan sehat selalu aamin. dan kali ini,saya siapa lagi kalau bukan ojan hadsome, akan mengajak anda mengenal sedikit tentang sejarah pulau penyengat,
Batam - Pulau Penyengat adalah sebuah pulau di wilayah Kepulauan Riau. Belanda menyebutnya sebagai PUlau Mars.
Pulau ini terletak di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang
berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Pulau ini berukuran panjang
2.000 meter dan lebar 850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau
Batam.
Pulau ini dapat ditempuh dari pusat Kota Tanjung Pinang dengan
menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong yang memerlukan
waktu tempuh kurang lebih 15 menit.
Pulau Penyengat merupakan salah satu objek wisata di Kepulauan Riau. Berdasarkan informasi yang dihimpun batamnews dari
wikipediaorg dan berbagai sumber, berikut adalah keistimewaan Pulau Penyengat.
1. Pusat pemerintahan Kerajaan Riau
Pulau Penyengat pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau. Ketika itu namanya menjadi Pulau Penyengat Inderasakti.
Pada 1803, Pulau Penyengat awalnya dibangun sebagai pusat pertahanan.
Pulau ini kemudian dibangun menjadi negeri dan berkedudukan Yang
Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga.
Ketika itu, Sultan berkediaman resmi di Daik-Lingga. Pada tahun 1900, Sultan Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat.
Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan kebudayaan Melayu.
2. Pulau bersejarah
Pulau Penyengat merupakan pulau yang bersejarah. Pulau ini memiliki
kedudukan penting dalam peristiwa jatuh bangunnya Imperium Melayu.
Peran penting tersebut berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya
Kerajaan Riau di tahun 1722, sampai akhirnya diambil alih sepenuhnya
oleh Belanda pada 1911.
3. Jadi kubu pertahanan perang saudara di Johor
Awalnya pulau ini hanya sebuah tempat persinggahan armada-armada
pelayaran yang melayari perairan Pulau Bintan, Selat Malaka dan
sekitarnya.
Namun pada tahun 1719 ketika meletus perang saudara memperebutkan
tahta Kesultanan Johor. Perang tersebut antara Raja Kecil, keturunan
Sultan Mahmud Syah melawan Tengku Sulaiman, keturunan Sultan Abdul Jalil
Riayatsyah.
Pulau Penyengat mulai dijadikan kubu pertahanan oleh Raja Kecil. Ia
memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (Johor) ke Riau di
Hulu Sungai Carang (Pulau Bintan).
Perang saudara itu dimenangkan oleh Tengku Sulaiman dan saudaranya.
Mereka dibantu lima orang bangsawan Bugis Luwu, yaitu Daeng Perani,
Daeng Marewah, Daeng Chelak, Daeng Kemasi dan Daeng Menambun.
Selanjutnya, Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan
Johor-Riau-Lingga, pada 4 Oktober 1722. Sedangkan Raja Kecil menyingkir
ke Siak dan mendirikan Kesultanan Siak.
4. Ada banyak bangunan bersejarah
Bangunan bersejarah di Pulau Penyengat di antaranya yaitu Masjid Raya
Sultan Riau, Mushaf Al-Quran, Istana Kantor dan Balai adat Melayu.
Monumen Bahasa Melayu juga didirikan di pulau ini. Pada tanggal 19
Agustus 2013, diletakkan batu pertama pembangunan Monumen Bahasa Melayu
di areal dalam bekas Benteng Kursi, Pulau Penyengat, oleh Gubernur
Kepulauan Riau, HM Sani.
Pembangunan monumen ini merupakan wujud penghormatan dan penghargaan
Pemerintah Provinsi Kepri terhadap jasa-jasa Raja Ali Haji sebagai
pahlawan nasional di bidang bahasa.
Selain itu juga untuk lebih mengenalkan tentang asal dan arti bahasa
Melayu yang dipakai di Kepulauan Riau dan Lingga, serta bahasa Indonesia
yang digunakan saat ini.
5. Pulau Mas Kawin
Pulau penyengat menjadi mas kawin Sultan Kasultanan Riau III Sultan
Mahmud Syah untuk Raja Hamidah yang kemudian dikenal sebagai Engku
Puteri Raja Hamidah. Mereka menikah pada tahun 1803.
Engku Puteri Raja Hamidah merupakan putri dari Yang Dipertuan Muda
(YDM) Riau IV, Raja Haji Fisabilillah. Setelah menikah dengan Sultan
Mahmud Syah dan diberikan Pulau Penyengat, ia kemudian bermukim di pulau
tersebut hingga akhir hayat pada 1844.
Hingga saat ini, banyak keturunan Engku Puteri Raja Hamidah yang
dimakamkan di tempat tersebut. Engku Puteri Raja Hamidah sendiri
dimakamkan di kompleks pemakaman Dalam Besar.
Pada kompleks tersebut, juga dimakamkan Raja Ali Haji yang dikenal
sebagai pengarang Gurindam Dua Belas dan ditetapkan sebagai Pahlawan
Nasional. Di kompleks itu pula dimakamkan Raja Ahmad dan Yang Dipertuan
Muda (YDM) Riau IX, Raja Abdullah.